Di Hutatinggi sendiri, untuk menunjang pelaksanaan aneka macam kegiatan dan ritual keagamaan berdiri sebuah kompleks yang disebut bale Pasogit (balai asal-usul) yang terdiri dari empat bangunan utama yakni Bale Partonggoan (balai doa), Bale Parpitaan (balai sakral), Bale Pangaminan (balai pertemuan), dan Bale Parhobasan (balai pekerjaan dapur). Bagi umat Parmalim, Bale Pasogit merupakan Huta Nabadia (tanah suci). Semua bale ini didesain dengan motif batak yang sarat dengan arti khusus. Di kompleks itu pula, tiap dua kali dalam setahun digelar upacara keagamaan besar yang disebut Sihapa Sada, yakni sebuah upacara untuk menyambut tahun gres sekaligus demi memperingati kelahiran para pemimpin spiritual Parmalim, dan juga Sihapa Lima, yang dimaksudkan untuk upacara syukuran atas rahmat yang diterima dari Raja Mulajadi Nabolon. Kedua ritual upacara ini begitu penting artinya bagi segenap penganut agama Parmalim, maka dari itu tak heran kiranya jikalau tiap diadakannya ritual ini hampir seluruh penganut Parmalim baik yang ada di sekitar kompleks maupun dari luar kawasan akan selalu menyempatkan datang.
Dalam upacara ini, mereka disamping untuk menyambut tahun gres juga untuk mendoakan para raja Parmalim terdahulu, semenjak dari Sisingamaharaja sampai raja-raja yang sekarang, pun juga tak lupa untuk mendoakan para pemimpin disegala penjuru dunia yang dalam pemaknaan filosofis mereka disebut sebagai pemimpin dari empat penjuru dunia dan empat segi kehidupan. Untuk persiapan pelaksanaan upacara agung ini sendiri umat Parmalin dua hari sebelumnya akan melaksanakan puasa selama sehari semalam tanpa berbuka (24 jam) dengan sahur (awal puasa) dan berbuka dengan memakan makanan pahit yang disebut dengan mangan napaet sebagai simbol dan sekaligus mengenang usaha hidup yang penuh dengan kepahitan dan kegetiran hidup Raja Nasiak Bagi dikala menegakkan agama Parmalim. Bahan-bahan makanan dalam upacara ini sendiri yakni terdiri dari daun pepaya muda, cabai, garam, dan nangka muda. Sebelum disantap, bahan-bahan makanan ini ditumbuk halus sampai semua materi lebur jadi satu.
Untuk mengikuti upacara Sipaha Sada, para penganut Parmalim diwajibkan untuk mengenakan busana khusus sesuai dengan tingkatan mereka dalam kehidupan. Pria mengenakan jas berselempang ulos dari jenis ragi hotang dan sarung ulos dari jenis bintang maratur. Pria yang sudah menikah memakai sorban yang disebut tali-tali berwarna putih membuktikan kesucian. Pemimpin umat memakai tali tali berwarna hitam yang membuktikan kepemimpinan dan tanggung jawab. Sedangkan untu wanitanya diwajibkan mengenakan sarung (ragi) yang berbentuk ulos dari jenis runjat, kebaya, selendang (hande-hande) dari jenis yang bervariasi, yaitu sadum, bintang maratur dan mangiring, dan tatanan rambut yang memakai gaya sanggul toba, yakni gaya menyanggul yang digulung ke dalam. Warna-warna yang dipakai dalam busana ini sendiri selaras dengan filosofis masyarakat Batak sendiri terhadap aneka macam warna, menyerupai contohnya warna hitam mempunyai makna kepemimpinan dan tanggung jawab, merah mengandung arti sebagai ilmu pengetahuan dan jugakekuatan, dan putih sebagai perlambang kesucian. Tiga warna ini, selain menjadi warna pakaian dan ulos, juga terlihat dari desain pada rumah sopan santun Batak.
Barulah kemudian, sempurna tengah hari, upacara pun dimulai yang ditandai dengan masuknya Raja Ihutan, yakni pimpinan spiritual umat Parmalim, ke Bale Partonggoan. Di dalam balai ini telah disiapkan aneka macam sesajen yang disebut pelean berupa daging ayam, kambing putih, ihan (ikan batak), telur, nasi putih, sirih, sayur-mayur, jeruk purut, air suci, dan dupa. Lazimnya dalam tradisi sopan santun Batak Kuno, bahan-bahan untuk pelean berasal dari hewan-hewan atau hasil pertanian terpilih, meski tidak wajib melainkan kemampuan orang yang melaksanakan upacara. Pelean yang wajib harus urapan, air suci dan dupa. Setelah diperiksa oleh Raja Ihutan, pelean dibawa ke lantai dua (pamelean) Bale Partonggoan secara berantai. Di tempat ini, Raja Ihutan akan memastikan letak dan arah pelean. Setelah ritual penyiapan pelean, Raja Ihutan kembali turun ke bawah untuk memimpin Upacara Sipaha Sada yang berlangsung dengan hikmat dan menghabiskan waktu sekitar lima jam, mencakup penyembahan dan kotbah dari Ihutan. Malam harinya program di lanjutkan dengan pesta muda mudi.